Sabtu, 26 Desember 2015

Budaya Dalam Jalanan | Sejenak Merefleksi Diri



BUDAYA  DALAM JALANAN
Oleh : Azhar Nasywa Imtiyaz

Banyak sekali hal-hal kecil yang mungkin sering kita abaikan. Padahal jika hal tersebut diperhatikan dengan jeli, menurut saya ini adalah potongan penyebab masalah yang terjadi di negeri ini. Dalam tulisan saya ini saya ingin memampakan hasil pengamatan saya tentang apa yang setiap harinya saya temui, saya lalui, bahkan saya tidak pernah lepas dari itu. Mungkin bukan hanya saya Anda pun mau tidak mau pasti berkecimpung disitu.
Jalanaan. Ya.. itu yang saya maksudkan. Mungkin anda heran mengapa saya mengangkat jalanan. Mungkin anda juga berpikir bahwa apa yang perlu dipermasalahkan dari jalanan. Memang jalanan hanyalah media untuk kita menuju tempat rutinitas kita. Mungkin sekilas tak berarti, bahkan terkadang kita tak marasakan apapun saat melaluinya. Namun tahukah anda, Terlepas dari kesibukan dan rutinitas kita, jalanan merupakan salah satu media interaksi sosial. Didalamnya terdapat budaya yang mungkin selama ini kita tidak pernah tahu, tidak pernah merasakannya. Tidak banyak memang orang yang mau membaca situasi dimana dia berada. Memikirkan apa yang sedang terjadi saat ini. Menghayati mengapa semua ini bisa terjadi. Kebanyakan malah apatis karena ingin segera sampai pada tempat tujuan, pada kesibukannya, pada rutinitasnya, pada pekerjaannya. Tidak salah memang ketika mereka menganggap jalanan adalah sesuatu hal yang tidak penting, yaa memang tidak penting jika dibandingkan dengan rutinitas dan karir mereka.
Hampir setiap hari saya mengendarai motor kesayangan saya. Berangkat sekolah, pulang sekolah, berangkat bimbingan belajar, berangkat belajar kelompok, dan petangnya saya pulang kerumah. Begitulah rutinitas saya sebagai pelajar SMA setiap harinya. Sehingga jalanan sudah menjadi teman bagi saya. Itu yang membuat saya selalu merasakan senang ketika di jalanan. Kemanapun saya akan berkunjung hal yang paling saya senangi adalah perjalanan. Entah, namun saya sangat menikmati setiap perjalanan saya.
Mungkin anda heran mengapa saya merasakan hal itu. Simple saja, hanya berawal dari “mengamati”. Yaa saya sangat menyukai kegiatan mengamati. Ketika dalam perjaalanan banyak sekali yang saya lalui mulai dari perkampungan, pasar, sekolah, perumahan, kantor, masjid, gereja, kantor polisi,  dan jalan raya yang terpenting. Disitu selalu ada yang menarik perhatian saya hingga saya tak merasakan lamanya saya berkendara. Tentu saja di setiap tempat itu pasti terjadi interaksi di dalamnya. Tak bisa dipungkiri, sudah menjadi keniscayaan bahwa dimana manusia itu berada pasti terdapat interaksi di dalamnya.
Disini saya akan sedikit menceritakan pengalaman mengamati saya ketika di jalanan. Khususnya jalan raya. Sudah menjadi hal yang wajar ketika menginginkan waktu yang paling singkat untuk cepat tiba di tempat tujuan kita. Kantor misalnya. Bukan hanya pekerja kantoran yang senantiasa dikejar deadline dan meeting dengan client. seorang sopir angkutan umum pun ingin cepat sampai ke pangkalan angkutannya. Memang kita berhak sepenuhnya dengan waktu kita. Namun jangan lupa, masih ada hak orang lain yang mengikat kita. Mungkin kita tidak pernah merasa mengambil hak orang lain, karena kita memposisikan diri kita adalah orang yang berkepentingan. Ngebut di jalan tanpa melihat samping kanan kiri karena memikirkan deadline setumpuk yang sudah menanti di kantor. Mungkin saya sebagai pelajar memikirkan saya akan terlambat dalam upacara. Tidak sadarkah, kita hanya memikirkan diri kita, mementingkan diri kita. Tidak peduli rambu-rambu, menerobos lampu merah-bahkan lampu merah penyebrang jalan yang jelas jelas orang tersebut akan menyebrang-, tancap gas secepat Rossi, saling mendahului, mengklason pengendara yang menghalangi laju kencangnya, memotong jalan. Sungguh beresiko tinggi. 
Ketika lampu hijau menyala, berlomba-lomba mengeraskan klaksonnya sebagai tanda ‘CEPAT JALAN’. Melihat hal tersebut terkadang membuat saya sedikit emosi, apa tidak bisa sedikit bersabar ??. Agaknya memang susah, ketika di setiap otak ada paradigma Yang penting saya sampai secepat mungkin dan tepat waktu”. Mengapa tulisannya saya tebali ? Karena teks ‘yang penting’ itulah budaya egois, ingin menang sendiri, tidak peduli terhadap orang lain.

Ada pengalaman lucu yang sering saya dan teman-teman saya  alami  namun membuat saya semakin heran dengan ‘kehidupan’ jalanan ini. Saat itu saya sedang mengendarai motor berboncengan dengan teman saya. Saat mendekati lampu lalu lintas-yang biasanya disebut lampu merah- lampu yang menyala saat itu adalah lampu kuning, kebetulan saya yang menyetir. Sayapun memperlambat laju kendaraan saya dan berhenti pada lampu tersebut. Anehnya pengendara-pengendara disamping saya bukannya memperlambat lajunya seperti yang saya lakukan. Mereka malah tancap gas karena lampu akan berganti merah, saat itu ada banyak pengendara yang memperhatikan kami berdua dan tertawa kecil-kaatakanlah begitu- entah, saya juga kurang paham maksud dari ‘tertawa kecil’nya, mungkin bisa saya terjemahkan mereka heran karena hanya kita yang berhenti di saat lampu kuning menyala. Tidak hanya itu, pengendara di belakang kami menyalakan klaksonnya sebagai isyarat ‘cepat jalan’dan  kami harus menyingkir karena telah menghalangi jalannya. Dari situ saya jadi berpikir, yang melakukan kesalahan disini sebenarnnya siapa ? Hm menurut Anda siapa ? saat itu sempat saya dan teman saya saling menatap dan kami termenung sejenak, mungkin memang kami yang salah, tetapi atas dasar apa kami salah. Sepertinya saya sedikit kesulitan menemukan jawabannya. Barangkali Anda bisa membantu saya ?
Budaya itu memang selau ada disetiap interaksi manusia. Kita tidak dapat menghindarinya bahkan sampai menolaknya. Dari sedikit cerita tentang pengalaman pengamatan saya diatas, mungkin itu adalah gambaran lingkungan kita sekarang, tak usah lah kita selalu menyalahkan pemerintah dan para wakil rakyat. Bukannya membela dan mengagungkan atau membenarkan para petinggi negeri ini, tetapi sebelum kita menyalahkan orang lain, hendaknya kita intropeksi diri kita dahulu. Barangkali memang ada hal-hal kecil semacam ini yang kurang terperhatikan. Mungkin tidak seberapa terlihat efeknya namun tak sadarkah Anda bahwa efeknya sangat besar bagi negeri ini. Bayangkan, dengan budaya tersebut negeri kita tercinta ini adalah negeri penuh orang egois, acuh, tidak peduli, dan mementingkan diri sendiri. Lantas apa jadinya negeri ini kelak ? Memang tidak sebagai moral yang nampak, karena negeri kita terkenal dengan moral sopan santun dan tata karma, seluruh dunia tahu itu. Namun yang saya tekankan disini sikap tersebut tertanam sebagai budaya yang secara tidak sadar menadi moral kebatinan kita, cara kerjanya di bawah alam bawah sadar. Itu mengapa setiap kita melanggar lalu lintas, katakanlah menerobos lampu merah, kita tidak pernah merasakan penyesalan sebuah kesalahan yang berarti. Mungkin itu hanyalah hal yang sepele, namun dari hal sepele tersebut terdapat resiko nyawa seseorang. Syukur-syukur  masih diberi keselamatan. Kalau tidak bisa mati mengenaskan seperti dalam berita di televisi dan koran. Jangankan yang ugal-ugalan, yang berkendara sesuai aturan dan hati-hati saja masih ada potensi tidak selamat.
Semoga kita tidak gampang meremehkan hal-hal kecil, hal-hal sepele. Dan semoga kita sebagai manusia yang berakal sehat, cerdas, yang memiliki intelegensitas tinggi  dapat senantiasa melakukan intropeksi diri, perbaikan diri, upgrade kualitas diri, menjadi pribadi yang lebih baik lagi tentunya menjadi bangsa yang membanggakan dan menharumkan negeri tempat kita di tempa ini. Bukannya menjadi pribadi perusak, biang keonaran dan menjadi bangsa yang gampang dibodohi karena selalu mementingkan dirinya sediri. Seperti yang terjadi beberapa tahun silam. Semoga.

                                                                                                Surabaya, Desember 2015


Daftar Pustaka :