BUDAYA DALAM JALANAN
Oleh
: Azhar Nasywa Imtiyaz
Banyak
sekali hal-hal kecil yang mungkin sering kita abaikan. Padahal jika hal
tersebut diperhatikan dengan jeli, menurut saya ini adalah potongan penyebab
masalah yang terjadi di negeri ini. Dalam tulisan saya ini saya ingin
memampakan hasil pengamatan saya tentang apa yang setiap harinya saya temui,
saya lalui, bahkan saya tidak pernah lepas dari itu. Mungkin bukan hanya saya Anda
pun mau tidak mau pasti berkecimpung disitu.
Jalanaan.
Ya.. itu yang saya maksudkan. Mungkin anda heran mengapa saya mengangkat
jalanan. Mungkin anda juga berpikir bahwa apa yang perlu dipermasalahkan dari
jalanan. Memang jalanan hanyalah media untuk kita menuju tempat rutinitas kita.
Mungkin sekilas tak berarti, bahkan terkadang kita tak marasakan apapun saat
melaluinya. Namun tahukah anda, Terlepas dari kesibukan dan rutinitas kita,
jalanan merupakan salah satu media interaksi sosial. Didalamnya terdapat budaya
yang mungkin selama ini kita tidak pernah tahu, tidak pernah merasakannya. Tidak
banyak memang orang yang mau membaca situasi dimana dia berada. Memikirkan apa
yang sedang terjadi saat ini. Menghayati mengapa semua ini bisa terjadi.
Kebanyakan malah apatis karena ingin segera sampai pada tempat tujuan, pada
kesibukannya, pada rutinitasnya, pada pekerjaannya. Tidak salah memang ketika
mereka menganggap jalanan adalah sesuatu hal yang tidak penting, yaa memang
tidak penting jika dibandingkan dengan rutinitas dan karir mereka.
Hampir
setiap hari saya mengendarai motor kesayangan saya. Berangkat sekolah, pulang
sekolah, berangkat bimbingan belajar, berangkat belajar kelompok, dan petangnya
saya pulang kerumah. Begitulah rutinitas saya sebagai pelajar SMA setiap
harinya. Sehingga jalanan sudah menjadi teman bagi saya. Itu yang membuat saya
selalu merasakan senang ketika di jalanan. Kemanapun saya akan berkunjung hal
yang paling saya senangi adalah perjalanan. Entah, namun saya sangat menikmati setiap
perjalanan saya.
Mungkin
anda heran mengapa saya merasakan hal itu. Simple saja, hanya berawal dari
“mengamati”. Yaa saya sangat menyukai kegiatan mengamati. Ketika dalam
perjaalanan banyak sekali yang saya lalui mulai dari perkampungan, pasar,
sekolah, perumahan, kantor, masjid, gereja, kantor polisi, dan jalan raya yang terpenting. Disitu selalu
ada yang menarik perhatian saya hingga saya tak merasakan lamanya saya
berkendara. Tentu saja di setiap tempat itu pasti terjadi interaksi di
dalamnya. Tak bisa dipungkiri, sudah menjadi keniscayaan bahwa dimana manusia
itu berada pasti terdapat interaksi di dalamnya.
Disini
saya akan sedikit menceritakan pengalaman mengamati saya ketika di jalanan. Khususnya
jalan raya. Sudah menjadi hal yang wajar ketika menginginkan waktu yang paling
singkat untuk cepat tiba di tempat tujuan kita. Kantor misalnya. Bukan hanya
pekerja kantoran yang senantiasa dikejar deadline
dan meeting dengan client. seorang sopir angkutan umum pun
ingin cepat sampai ke pangkalan angkutannya. Memang kita berhak sepenuhnya
dengan waktu kita. Namun jangan lupa, masih ada hak orang lain yang mengikat
kita. Mungkin kita tidak pernah merasa mengambil hak orang lain, karena kita
memposisikan diri kita adalah orang yang berkepentingan. Ngebut di jalan tanpa melihat samping kanan kiri karena memikirkan deadline setumpuk yang sudah menanti di
kantor. Mungkin saya sebagai pelajar memikirkan saya akan terlambat dalam
upacara. Tidak sadarkah, kita hanya memikirkan diri kita, mementingkan diri
kita. Tidak peduli rambu-rambu, menerobos lampu merah-bahkan lampu merah
penyebrang jalan yang jelas jelas orang tersebut akan menyebrang-, tancap gas
secepat Rossi, saling mendahului, mengklason pengendara yang menghalangi laju
kencangnya, memotong jalan. Sungguh beresiko tinggi.
Ketika lampu hijau
menyala, berlomba-lomba mengeraskan klaksonnya sebagai tanda ‘CEPAT JALAN’.
Melihat hal tersebut terkadang membuat saya sedikit emosi, apa tidak bisa
sedikit bersabar ??. Agaknya memang susah, ketika di setiap otak ada paradigma “Yang
penting saya sampai secepat mungkin dan tepat waktu”. Mengapa
tulisannya saya tebali ? Karena teks ‘yang
penting’ itulah budaya egois, ingin menang sendiri, tidak peduli terhadap
orang lain.
Ada
pengalaman lucu yang sering saya dan teman-teman saya alami
namun membuat saya semakin heran dengan ‘kehidupan’ jalanan ini. Saat
itu saya sedang mengendarai motor berboncengan dengan teman saya. Saat
mendekati lampu lalu lintas-yang biasanya disebut lampu merah- lampu yang
menyala saat itu adalah lampu kuning, kebetulan saya yang menyetir. Sayapun
memperlambat laju kendaraan saya dan berhenti pada lampu tersebut. Anehnya
pengendara-pengendara disamping saya bukannya memperlambat lajunya seperti yang
saya lakukan. Mereka malah tancap gas karena lampu akan berganti merah, saat
itu ada banyak pengendara yang memperhatikan kami berdua dan tertawa kecil-kaatakanlah begitu- entah, saya juga kurang paham maksud dari ‘tertawa kecil’nya,
mungkin bisa saya terjemahkan mereka heran karena hanya kita yang berhenti di
saat lampu kuning menyala. Tidak hanya itu, pengendara di belakang kami
menyalakan klaksonnya sebagai isyarat ‘cepat jalan’dan kami harus menyingkir karena telah menghalangi
jalannya. Dari situ saya jadi berpikir, yang melakukan kesalahan disini
sebenarnnya siapa ? Hm menurut Anda siapa ? saat itu sempat saya dan teman saya
saling menatap dan kami termenung sejenak, mungkin memang kami yang salah,
tetapi atas dasar apa kami salah. Sepertinya saya sedikit kesulitan menemukan
jawabannya. Barangkali Anda bisa membantu saya ?
Budaya
itu memang selau ada disetiap interaksi manusia. Kita tidak dapat
menghindarinya bahkan sampai menolaknya. Dari sedikit cerita tentang pengalaman
pengamatan saya diatas, mungkin itu adalah gambaran lingkungan kita sekarang, tak usah lah kita selalu menyalahkan
pemerintah dan para wakil rakyat. Bukannya membela dan mengagungkan atau
membenarkan para petinggi negeri ini, tetapi sebelum kita menyalahkan orang
lain, hendaknya kita intropeksi diri kita dahulu. Barangkali memang ada hal-hal
kecil semacam ini yang kurang terperhatikan. Mungkin tidak seberapa terlihat
efeknya namun tak sadarkah Anda bahwa efeknya sangat besar bagi negeri ini. Bayangkan,
dengan budaya tersebut negeri kita tercinta ini adalah negeri penuh orang
egois, acuh, tidak peduli, dan mementingkan diri sendiri. Lantas apa jadinya
negeri ini kelak ? Memang tidak sebagai moral yang nampak, karena negeri kita
terkenal dengan moral sopan santun dan tata karma, seluruh dunia tahu itu.
Namun yang saya tekankan disini sikap tersebut tertanam sebagai budaya yang
secara tidak sadar menadi moral kebatinan kita, cara kerjanya di bawah alam
bawah sadar. Itu mengapa setiap kita melanggar lalu lintas, katakanlah
menerobos lampu merah, kita tidak pernah merasakan penyesalan sebuah kesalahan
yang berarti. Mungkin itu hanyalah hal yang sepele, namun dari hal sepele tersebut
terdapat resiko nyawa seseorang. Syukur-syukur
masih diberi keselamatan. Kalau tidak bisa mati mengenaskan seperti
dalam berita di televisi dan koran. Jangankan yang ugal-ugalan, yang berkendara
sesuai aturan dan hati-hati saja masih ada potensi tidak selamat.
Semoga
kita tidak gampang meremehkan hal-hal
kecil, hal-hal sepele. Dan semoga kita sebagai manusia yang berakal sehat,
cerdas, yang memiliki intelegensitas tinggi
dapat senantiasa melakukan intropeksi diri, perbaikan diri, upgrade
kualitas diri, menjadi pribadi yang lebih baik lagi tentunya menjadi bangsa
yang membanggakan dan menharumkan negeri tempat kita di tempa ini. Bukannya
menjadi pribadi perusak, biang keonaran dan menjadi bangsa yang gampang
dibodohi karena selalu mementingkan dirinya sediri. Seperti yang terjadi
beberapa tahun silam. Semoga.
Surabaya,
Desember 2015
Daftar Pustaka :


