Alay adalah singkatan dari Anak Lebay. Jika bicara tentang
Alay hal yang terlintas dipikiran kita adalah remaja. Yaa remaja layaknya tokoh
utama dalam bahasan ini. Seperti kita ketahui remaja zaman sekarang sangat amat
berbeda dengan remaja zaman dahulu, zaman nenek kakek kita. Mulai dari
perilaku, perbuatan, kesopanan serta cara berbicara dalam mengungkapkan isi
hati. Kali ini kita akan membahas cara berbicara para remaja. Cekidot ….
Ada apa dengan cara berbicara remaja zaman sekarang ? Menurut
artikel yang ditulis beberapa ahli atau pemerhati tata bahasa, remaja kini sangat lemah dalam penggunanaan tata bahasa yang baik dan benar. Salah salah
satu contohnya adalah Bahasa Alay. Kembali pada hakikat Alay yaitu sesuatu yang
berlebihan entah itu cara berperilaku, cara berpakain, terutama cara bicara
yang seringkali disebut Bahasa Alay. Jadi Bahasa Alay adalah bahasa yang
berlebihan. Bahasa Alay biasanya disingkat singkat, penggunaan huruf besar dan
angka, serta ada beberapa kata yang dilebih lebihkan. Menurut para ahli bahasa,
gaya Bahasa Alay sering terputus-putus, berantakan dan tidak teratur. Contohnya
saat menulisakan SMS, style nya seperti orang berdialog sehingga pesan yang disampaikan tidak utuh.
Sebenarnya Bahasa Alay timbul akibat kebisaan dan kondisi lingkungan yang
mendukungnya. Menurut hasil survey yang saya lakukan, Bahasa Alay kebanyakan
menyerang para pelajar SMP sederajat. Biasanya Bahasa Alay digunakan saat
percakapan via ponsel, social media atau saat kumpul dengan teman-teman. Sayangnya
tidak semua kalangan bisa mengerti dan memahami bahasa ini. Hanya komunitas
atau orang-orang yang akrab saja yang biasa menggunakan bahasa ini. Namun seringkali
bahasa ini tidak digunakan pada tempatnya, banyak remaja yang menggunakan Bahasa
Alay saat berbicara pada orang yang lebih tua, misalnya pada guru dan orang
tua. Padahal seharusnya pemakaian Bahasa Alay harus sesuai situasi, kondisi,
konteks dan siapa lawan bicaranya. Jika pemakaiannya kepada guru atau orang
yang lebih tua akan rawan timbul kesalahpahaman dan kesannya tidak sopan. Maka
sebaiknya Bahasa Alay digunakan saat suasana santai dengan lawan bicara
teman-teman yang sudah akrab dan mengerti Bahasa Alay yang sehari-hari
diucapkan. Dengan begitu tidak akan terjadi miskomunikasi. Namun ada beberapa
orang yang berpendapat bahwa Bahasa Alay bahasa yang tidak efektif, perlu
berpikir keras untuk membacanya. Yaa! Mungkin
saya sendiri pernah mengalaminya. Memang Bahasa Alay seperti bahasa yang tak lazim.
Apalagi bagi generasi tua sebelum kita.
Namun kita tidak boleh melihat Bahasa Alay dari satu sisi
saja, itu namanya melihat dengan sebelah mata. Mengapa saya katakan begitu ? Karena
bahasa alay tidak selamanya berdampak negative. Seperti kata Pepatah
‘Sebanyak-Banyak Keburukan Pasti Disitu Tersimpan Kebaikan’. Sama halnya dengan
Bahasa Alay, ia menjadi positif apabila dikondisikan pada lingkungan yang
positif, karena lingkungan sangat berpengaruh bukan ?. Bahasa Alay adalah suatu
bentuk kreativitas berbahasa. Karena dalam bahasa itu terdapat pencampuran
antara huruf kecil, kapital dan angka. Padahal tidak pernah ada kan sekolah
yang mengajarkan perncampuran huruf dan angka semacam itu, bahkan di KBBI (Kamus
Besar Bahasa Indonsia)pun tak pernah
ada. Atau mungkin dari orang tua ?, tentu saja tidak. Mereka yang membuat
sendiri, dengan kekreatifitasan mereka sehingga mampu mengolah bahasa semacam
itu. Bagaimana tidak, dengan fasihnya mereka menggunakan bahasa itu di
kehidupan sehari hari. Seperti sudah khatam.
Yang menjadi pertanyaan sekarang bagaimana Bahasa Alay tersebut
menjadi sesuatu yang positif. Tanpa kita sadari, banyaknya remaja-remaja Alay
yang kreatif ini dapat membuat perubahan terutama di Indonesia ini. Kita bisa
memanfaatkan kekreatifitasan mereka ini di jalan yang benar, yaitu dengan
membuka suatu kewirausahaan dengan ide-ide inovatif dan kreatif dari mereka. Dengan
begitu dapat menarik banyak pengangguran di negeri ini, sehingga dapat
menurunkan angka pengangguran dan kemiskinan di Indonesia. Besar sekali peran
yang dapat mereka ambil. Memang, belum banyak yang berpikiran ke arah sana. Namun
jika tidak dimulai dari pribadi kita sendiri, lalu siapa yang akan memulainya ?
Tidak seharusnya kan kita terpuruk seperti ini. Maka dari itu sebagai remaja
yang kreatif dan inovatif kita wajib membuat suatu perubahan untuk negeri kita
tecinta ini.
Semua hal pasti ada keuntungan dan kerugian, ada manfaat dan
ada risiko juga ada dampak positif dan dampak negatif yang timbul dari hal itu
sendiri. Tinggal bagaimana kita bisa menyikapinya. Menyikapinya dan membawanya
pada jalan yang benar bukan menuju jalan yang salah. Namun kita tak perlu
khawatir, cukup selalu berpikir positif.
Maka pikiran positif itu yang akan menuntun kita menuju jalan kebenaran.
Gambar diatas adalah kutipan kosakata yang diambil dari Kamus Besar Bahasa Alay.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar